BPPT Gandeng PII dan UNESCO Tingkatkan Kompetensi Perekayasa

Jakarta – Perekayasa Indonesia perlu memiliki akreditasi dan berstandar internasional agar mampu terjun dalam era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).

Sebagai negara berkembang, perekayasa atau insinyur Indonesia perlu pembidangan dan kepakaran sehingga bisa mendukung pembangunan berkelanjutan.

Deputi Bidang Teknologi Pengembangan Sumberdaya Alam (TPSA) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)
Wimpie Agoeng Noegroho mengatakan, BPPT dan Persatuan Insinyur Indonesia (PII) memandang perlunya standarisasi untuk mendorong kegiatan yang akan datang dan kerja sama di Asia Pasifik.

Untuk itulah BPPT menggandeng PII dan United Nations Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO) mendorong penguatan kompetensi perekayasa agar berstandar internasional.

“Kerekayasaan teknologi inovasi penting untuk mendukung upaya pembangunan berkelanjutan. UNESCO mendukung hal ini,” katanya di Jakarta, Kamis (21/12).

BPPT yang mempunyai kewenangan sebagai pembina jabatan fungsional perekayasa memandang perlu peningkatan kualifikasi dan profesionalisasi agar perekayasa Indonesia berstandar internasional.

Perekayasa atau insinyur lanjutnya juga punya andil dalam mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (sustainable development goals).

Ketua Umum PII Hermanto Dardak mengungkapkan, saat ini Indonesia masih kekurangan sumber daya insinyur. Padahal percepatan dan kompetensi insinyur di dalam negeri perlu ditingkatkan sebagai percepatan untuk mengurangi gap dengan negara yang sudah maju.

Namun menurutnya profesi insinyur belum diminati generasi milenial. Di kampus, peminat atau mahasiswa jurusan teknik hanya 15 persen dari seluruh mahasiswa yang ada dari berbagai jurusan. Jumlah ini berbeda jauh dengan Malaysia yang mencapai 24 persen dan Korea serta Tiongkok yang mencapai 30 persennya.

“Padahal insinyur membuat sesuatu yang baru, yang tidak ada menjadi ada, terbangun, nyata dan memperbaikinya,” ucap Hermanto.

Namun saat ini jumlah insinyur di Indonesia diperkirakan hanya 40.000. Setiap tahunnya lanjut Hermanto, Indonesia membutuhkan 10.000 insinyur baru. Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi pun mendorong agar mahasiswa tertarik di bidang teknik. Perusahaan juga diajak untuk menyerap tenaga insinyur yang dihasilkan kampus.

Oleh: Ari Supriyanti Rikin

Sumber berita dan gambar fitur: http://www.beritasatu.com/iptek/469787-bppt-gandeng-pii-dan-unesco-tingkatkan-kompetensi-perekayasa.html