Sejarah

CAME – Konferensi Menteri Pendidikan Negara Sekutu dan Perumusan Bidang Aktivitas UNESCO

Bila Komisi Internasional Kerjasama Intelektual dapat dikatakan meletakkan dasar-dasar bidang kegiatan UNESCO, maka dapat dikatakan pula Konferensi Menteri Pendidikan Negara Sekutu (CAME) merumuskannya. Konferensi ini bersidang di London sementara Perang Dunia Kedua mencapai puncaknya. Semula melibatkan menteri pendidikan atau perwakilannya yang berlindung di London, yaitu Belgia, Cekoslovakia, Yunani, Belanda, Norwegia, Polandia, dan Yugoslavia, selain Inggris sendiri. Sesi yang pertama berlangsung 16 November 1942 dan perlu empat sesi lagi hingga para delegasi mengambil keputusan untuk mengundang delegasi Amerika Serikat pada akhir 1943.

Amerika Serikat pada waktu itu tengah mendorong pembentukan Perserikatan Bangsa Bangsa. Akan tetapi, gagasan untuk membentuk sebuah lembaga yang mengembangkan kerjasama intelektual di tingkat internasional pun diperhatikan secara serius dan mengundang berbagai pendapat. Nyatanya, pada waktu delegasi Amerika Serikat menghadiri Konferensi Menteri Pendidikan Negara Sekutu yang kelima di London, nama yang diusulkan adalah United Nations Educational and Cultural Reconstruction Organization. Sementara, State Department Amerika Serikat sebelumnya telah membahas nama United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization, atau UNESCO. Nama yang terakhir inilah yang dipergunakan dalam pembahasan oleh ke 43 negara, mulai dari Argentina hingga Yugoslavia, yang bertemu dalam konferensi kelima itu, yang menunjukkan pentingnya ilmu pengetahuan bagi para delegasi.

Delegasi negara-negara tersebut bertemu dalam konferensi yang bertujuan membentuk organisasi Perserikatan Bangsa Bangsa yang menangani urusan pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan, atau dengan kata lain UNESCO, pada tanggal 1 hingga 16 November 1945 di London. Konferensi ini juga dihadiri International Labour Organisation, sekretariat Liga Bangsa-Bangsa, Komite Internasional Kerjasama Intelektual Liga Bangsa Bangsa, Institut Internasional Kerjasama Internasional, Pan American Union, United Nations Relief and Rehabilitation Administration (UNRRA), dan International Bureau of Education. Selain merumuskan draft Konstitusi UNESCO, konferensi ini juga menetapkan bidang aktivitas UNESCO, yang terbagi dua: Programme Section, yang mencakup Pendidikan, Perpusatakaan, Ilmu Pengetahuan Alam, Ilmu Pengetahuan Sosial, Filsafat dan Ilmu Budaya, Media Massa, Kesenian, Kearsipan, dan Museum; serta General Programme, yang mencakup Pendidikan Dasar, International Understanding, serta Rekonstruksi dan Rehabilitasi. Pada tanggal 16 November 1945, Konstitusi UNESCO ditandatangi para peserta konferensi CAME.

UNESCO resmi berdiri, namun belum menjadi lembaga khusus PBB karena masih harus menunggu 20 negara untuk meratifikasi konstitusinya. Sejarahwan UNESCO, Fransesco Valederrama menjelaskan [3]:

UNESCO didirikan untuk mempromosikan perdamaian dan keamanan melalui penerapan pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan dalam hubungan internasional yang dilandasi saling pengertian dan kesejahteraan manusia.

Maksud utama para pendirinya adalah mempromosikan dan mengurus kerjasama internasional melalui penyebarluasan pengetahuan serta perbandingan pengalaman dan pembahasan gagasan, bekerja sama dengan LSM dan asosiasi serta federasi LSM internasional yang mencakup berbagai ahli.

Organisasi yang baru ini bertugas memerangi buta huruf, yang oleh banyak anggota delegasi [CAME] dipandang tidak sesuai dengan martabat manusia. Bagi UNESCO, pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan bukanlah tujuan akhir, melainkan jalan untuk melaksanakan tugas suci dan sebuah kewajiban moral. Tujuan akhir, seperti yang disebutkan dalam konstitusinya, adalah perdamaian yang dibangun di atas solidaritas moral dan intelektual kemanusiaan.

Konstitusi dan program ini bukanlah rumusan final, ternyata. Setelah negara keduapuluh, yaitu Yunani, meratifikasi Konstitusi UNESCO, tanggal 4 November 1946, General Conference UNESCO yang pertama bersidang dari 20 November hingga 10 Desember 1946. Pembahasan tentang aktivitas UNESCO berlanjut dan terbentuklah semangat untuk menyelenggarakan satu program saja, yang menjadi payung untuk berbagai proyek, terutama proyek penyediaan peralatan dan bantuan di negara yang paling menderita akibat perang, sehingga anak-anak dapat bersekolah kembali; seniman, peneliti dan tenaga ahli dapat bekerja kembali; perpustakaan dapat dibangun kembali dan diisi dengan buku-buku bermutu; serta peralatan yang diperlukan dalam penelitian dapat disediakan. Di dalam sidang General Conference kemudian diputuskan, ada dua jenis proyek utama di bawah program UNESCO, yaitu: pendukungan pendidikan dasar yang dikaitkan dengan pemberantasan buta huruf, serta pengkajian mendalam terhadap bahan ajar dengan maksud memperbaikinya.

Selain itu, General Conference yang pertama juga memutuskan untuk menyelenggarakan proyek yang sesuai dengan program yang dibicarakan dalam konferensi CAME, yaitu: komunikasi, perpustakaan dan arsip, kesenian, serta ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan sosial:

  • guna memastikan sarana dan prasarana komunikasi yang tersedia sesuai dengan kebutuhan manusia pada waktu itu, UNESCO merencanakan pengembangan jaringan radio berskala global, serta melaksanakan survei terhadap pers, sinema, dan berbagai jasa telekomunikasi dan pos;
  • guna memastikan manusia bebas berhubungan dan meningkatkan pengertian antar sesama, UNESCO berupaya menghilangkan hambatan untuk mengakses perpustakaan, museum, serta pertunjukan kesenian dan sastra; sekaligus membuat resolusi yang mempromosikan kebebasan berekspresi, menunjang perikehidupan, serta memperbaiki kondisi hidup seniman;
  • guna memastikan kemajuan ilmu pengetahuan alam, UNESCO berupaya mengganti peralatan penelitian keilmuan dan perlengkapan teknis, serta mempromosikan pertukaran tenaga ahli dan penyediaan fellowship; sementara itu dalam bidang ilmu pengetahuan sosial, UNESCO mengadakan berbagai proyek yang bertujuan untuk menjunjung perdamaian.

Program tunggal ini tetap merepresentasikan bidang-bidang aktivitas utama  UNESCO, yaitu pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan, dan keterwakilan ini semakin jelas pada program tahun 1947. Pembahasan dan keputusan General Conference 1947 dan General Conference berikutnya mengokohkan pembagian bidang aktivitas UNESCO, namun dasar pembagiannya sudah diletakkan pada tahun 1946.

“Tahun 1947 merupakan tahun pertama dalam sejarah UNESCO di mana lembaga ini sepenuhnya mengembangkan program sesuai dengan keputusan General Conference.[4]” Aktivitasnya terbagi atas: rekonstruksi dalam bidang pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan; pendidikan dasar; bidang pendidikan lainnya; perpustakaan; ilmu pengetahuan alam; ilmu pengetahuan sosial; filasfat, ilmu budaya, kesenian dan sastra; serta komunikasi massa. General Conference yang kedua, yang bersidang di Mexico City dari 6 November hingga 3 Desember 1947, menetapkan lima komponen (atau bidang) aktivitas utama UNESCO, yaitu: rekonstruksi, komunikasi, pendidikan, pertukaran budaya dan kesenian, serta hubungan sosial dan antar manusia dan ilmu pengetahuan alam.

General Conference tahun 1948, yang bersidang di Beirut dari 17 November hingga 11 Desember, membahas dan menetapkan aktivitas utama UNESCO dalam bidang rekonstruksi, pendidikan, ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, filsafat dan ilmu budaya, serta kebudayaan. Kemudian, General Conference tahun 1949, yang bersidang di Paris dari 19 September hingga 5 Oktober, membahas dan menetapkan aktivitas utama UNESCO dalam bidang rekonstruksi, pendidikan, ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, filsafat dan ilmu budaya, kebudayaan, serta komunikasi. Dapat disimpulkan, pembagian bidang aktivitas utama UNESCO telah mendapat rumusan yang relatif tetap menjelang kehadiran Republik Indonesia dalam lembaga khusus PBB ini.

[Lanjutkan membaca dengan mengklik tombol navigasi di bawah…]