Sejarah

Republik Indonesia di Bidang Aktivitas Utama UNESCO

Pada tahun 1950, ketika Republik Indonesia Serikat diterima sebagai anggota UNESCO, program lembaga ini telah relatif mapan. Aktivitas berlangsung dalam bidang pendidikan, ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan sosial, serta kebudayaan. Sementara itu, General Conference membahas pendidikan, ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan sosial, filsafat dan ilmu budaya, serta kebudayaan. Dua tahun berikutnya, 1951 dan 1952, pembagian bidang aktivitas relatif tetap, dengan penambahan komunikasi massa. Karena itu, dapatlah dikatakan, sejarah Republik Indonesia di UNESCO dapat ditelusuri melalui aktivitasnya di bidang-bidang tersebut. Tentunya, UNESCO memiliki berbagai proyek dan Republik Indonesia mengikuti sebagian proyek tersebut. Akan tetapi, pembagian aktivitas yang paling penting tetaplah bidang aktivitas yang utama, yaitu: pendidikan, ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan sosial, kebudayaan, dan juga komunikasi massa.

Melihat kiprah Republik Indonesia di bidang aktivitas utama tersebut dapatlah dikatakan bahwa kita bukanlah penentu arah kebijakan UNESCO. Memang, wakil Republik Indonesia beberapa kali menjadi anggota Executive Board dan badan ini menetapkan agenda pembahasan General Conference. Akan tetapi, sepanjang sejarah Republik Indonesia di UNESCO belum pernah ada usulan kita yang menentukan arah perkembangan bidang aktivitas utama. Ada usulan Republik Indonesia yang berbuah proyek dan aktivitas di dalam proyek tersebut membawa pengalaman baru bagi UNESCO, seperti misalnya restorasi Candi Borobudur yang merupakan proyek restorasi bangunan batu andesit pertama di daerah tropis bagi UNESCO. Akan tetapi, baik usulan maupun pelaksanaan proyek tersebut tidaklah mengubah arah kebijakan konservasi UNESCO.

Pada tahun 2018, UNESCO memiliki 193 anggota. Republik Indonesia menjadi anggota Executive Bureau untuk periode 2018-2021, bersama 58 anggota UNESCO lainnya. Sejarah akan mencatat apakah kita akan berperan utama dalam menentukan arah kebijakan UNESCO di masa depan. Sementara itu, catatan sejarah memperlihatkan peran Republik Indonesia di UNESCO dibatasi dalam bidang-bidang aktivitas utama. Kenyataan ini sesuai dengan keinginan Perdana Menteri Republik Indonesia Serikat yang diutarakan pada waktu kita mengajukan diri untuk menjadi anggota UNESCO, yaitu memanfaatkan perkembangan intelektual di dunia internasional. Hingga kini, hampir 70 tahun kemudian, keinginan tersebut nampaknya belum berubah.

Referensi:
[1] Frederico Mayor (1995: vii).
[2] Seperti dijelaskan oleh World History Association (2017).
[3] F. Valderrama (1995: 25), terjemahan oleh penyunting.
[4] F. Valderrama (1995: 33), terjemahan oleh penyunting.