Tentang UNESCO

UNESCO

UNESCO berdiri dengan ditandatanganinya Konstitusi UNESCO di London pada tanggal 16 November 1945. Suasana keprihatinan atas terjadinya perang dunia pertama dan kedua secara berturut-turut yang kurang dari masa satu generasi dinyatakan sebagai tujuan dasar dari pendirian dan sekaligus menjadi motto organisasi ini yang tertuang dalam kalimat terkenal berikut: ‘Since wars begin in the mind of men, it is in the minds of men that the defenses of peace must be constructed‘ (Oleh karena perang diawali dari pikiran manusia, maka dalam pikiran manusialah upaya menjaga perdamaian harus dibangun).

Pada tahun 2015, UNESCO masih mengalami krisis anggaran, yang bermula dari penundaan pembayaran kontribusi oleh Amerika Serikat dan Israel akibat diterimanya Palestina menjadi anggota penuh UNESCO pada Sidang Umum ke-36 UNESCO di tahun 2011. Penundaan pembayaran kontribusi Amerika Serikat dan Israel tersebut praktis mengurangi anggaran UNESCO sejumlah 22% atau sekitar 146 juta US$ dari anggaran rutin UNESCO sebesar 653 juta US$, hingga menjadi hanya 507 juta US$.

Sebagai cara untuk menanggulangi krisis keuangan tersebut, Dirjen UNESCO telah melakukan penghematan di berbagai bidang, termasuk dengan cara melakukan pemotongan pos-pos jabatan UNESCO, baik di kantor pusat UNESCO di Paris maupun di field offices. Dirjen UNESCO juga terus mengadakan penggalangan extrabudgetary funds dari negara-negara anggotanya untuk membiayai program-program yang menjadi prioritas UNESCO.

Pada Sidang Sesi ke-195 Executive Board UNESCO bulan Oktober 2014, Dirjen UNESCO menawarkan tiga opsi penyusunan anggaran periode 2016 – 2017, opsi 534 juta US$; opsi 520 juta US$; dan opsi 507 juta US$. Sidang ke-196 Executive Board UNESCO bulan April 2015 kemudian menawarkan sebuah opsi untuk menetapkan anggaran sebesar 518 juta US$ dengan jumlah iuran negara anggota yang masih tetap sebesar 507 juta US$, dan sisa kekurangan anggaran sebesar 11 juta US$ akan ditutup dengan memanfaatkan extrabudgetary funds. Opsi penetapan anggaran tersebut akan dibahas pada Sidang Umum ke-38 UNESCO tahun 2015.

Dalam melaksanakan mandatnya, UNESCO meletakkan prioritasnya pada masalah kesetaraan gender, pendidikan, dan pengembangan negara-negara Afrika. UNESCO telah memiliki Rencana Aksi Kesetaraan Gender UNESCO tahun 2014-2021 yang memberikan perhatian khusus pada kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan, terutama di wilayah konflik. UNESCO berusaha mengatasi masalah tersebut sesuai dengan mandat UNESCO, yaitu dengan memberikan pendidikan.

Direktur Jendral UNESCO

Irina Bokova
Irina Bokova (Sumber: www.unesco.org)

UNESCO dipimpin oleh seorang Direktur Jenderal, yang dipilih oleh Sidang Umum UNESCO. Masa jabatan Direktur Jenderal UNESCO adalah empat tahun. Saat ini, Direktur Jenderal UNESCO dijabat oleh Irina Bokova, dari Bulgaria. Irina Bokova terpilih sebagai Direktur Jenderal UNESCO sejak 15 November 2009 dan terpilih kembali untuk kedua kalinya pada tahun 2013. Irina Bokova merupakan wanita pertama yang memimpin organisasi UNESCO. Direktur Jenderal UNESCO mempersiapkan draft program UNESCO berikut dengan estimasi anggaran yang diperlukan. Direktur Jenderal UNESCO juga bertugas mempersiapkan laporan periodik tentang aktivitas organisasi UNESCO.

Alamat dan Kontak UNESCO

7, place de Fontenoy
75352 Paris 07 SP
France
Telepon: +33 (0)1 45 68 10 00

Sumber: http://en.unesco.org/