Noken, Warisan Dunia…Oh Nasibmu Kini

JAYAPURA – Ketua Lembaga Ekologi Papua, Titus Pekei mengungkap, status Noken sebagai warisan budaya saat ini terancam. Ini terjadi menyusul minimnya progres, setelah mendapat pengakuan Warisan Budaya dari Unesco pada 4 Desember 2014 lalu.

Titus mengatakan, berbagai progres setelah mendapat pengakuan dunia lewat Unesco cukup tinggi namun kenyataannya hingga kini tidak banyak lagi yang dilakukan sehingga terkesan tindaklanjut noken untuk diproteksi dan dilestarikan hanya ada di atas kertas.

Da menyebutkan, bahwa Desember 2016 nanti Unesco akan meminta perincian apa saja yang sudah dilakukan selama ini untuk proteksi dan pelestarian tadi. Jika minim progres maka dikhawatirkan status sebagai warisan budaya tersebut akan terancam. Apakah dipertimbangkan atau bahkan dihapus.

“Pada 15 Desember nanti harus ada yang dilaporkan ke Unesco, soal apa saja yang sudah pemerintah buat untuk perlindungan noken. Kami harap ini bisa diperhatikan dan jangan hanya bangga menjadi warisan dunia namun minim kepedulian,” kata Titus, seperti dikutip dari Cenderawasih Pos, Rabu (8/6).

Sejak Desember 2014 hingga Juni 2016, Titus melihat belum ada keseriusan dari berbagai pihak. Galeri Noken sejak dilakukan peletakan batu pertama oleh Gubernur Papua beberapa hari setelah pelantikan juga terbengkalai hingga kini. Padahal kata Titus berbicara noken adalah bicara jadi diri. “Aksi noken belum dilakukan sungguh-sungguh dan Unesco segera meminta laporan ini,” tegasnya.

Ia menyebut ada enam item yang perlu jadi perhatian, pertama mengenai inventarisasi noken, kedua bahan ajar buku, video dan poster. Ketiga noken dimasukkan dalam kurikulum sebagai muatan lokal, keempat pelatihan melalui sanggar-sanggar perajin. Kelima revitalisasi melalui komunitas adat dan keenam promosi oleh Pemda bersama mitranya.

Dari enam poin ini dikatakan hampir semua minim progres dan menurut Titus ketika ini dinilai biasa maka apa yang bisa dilaporkan. “Pemerintah terapkan pakai batik dan noken juga belum merata, begitu juga dengan prasasti yang diberikan untuk tujuh wilayah adat yang diberikan oleh Kemendikbud namun hingga kini tak jelas dimana prasasti tersebut,” sesal Titus.

Noken menurut Titus yang juga sebagai pencetus ini kini dalam posisi terdesak. Terdesak lantaran noken mulai kehilangan bahan baku akibat pohon ditebang dan tak ada proses pembibitan atau melakukan budidaya. Bila bahan baku habis maka noken juga akan terancam.

“Ini juga diminta untuk dijelaskan ke Unesco, bagaimana dengan ketersediaan bahan baku dan apakah dilestarikan atau tidak. Kalau hutan dibabat habis itu untuk apa dan masih ada beberapa hal penting lainnya yang harus segera disikapi,” pungkasnya.(ade/nat/adk/jpnn)

Sumber: http://www.jpnn.com/news/noken-warisan-duniaoh-nasibmu-kini